Waspada! 5 Ancaman Pendaki di Musim Kemarau


Waspada! 5 Ancaman Pendaki di Musim Kemarau

gunung-indonesia.com – pendakian gunung di musim kemarau dipilih oleh sebagian besar pendaki karena cuacanya cukup bersahabat dan biasanya gunung ini menyajikan pemandangan yang lebih indah dari pada pendakian di musim hujan.

Namun pendakian di musim kemarau memiliki risiko sendiri yang terkadang luput dari perhatian pendaki. Misalnya yang berikut ini:

1. Kebakaran Hutan

Musim kemarau identik dengan api. Suhu panas di siang hari membuat tanaman kering sehingga mudah tersulut oleh panas. Ini telah menjadi ancaman nyata bagi pendaki mengingat seringnya pendaki terjebak oleh api saat memanjat bahkan api besar di Gunung Lawu pada 2015 menyebabkan 7 pendaki mati.

Gunung Lokon menembak melalui kompascom

Adapun apa yang menyebabkan kebakaran di pegunungan sebagian besar disebabkan oleh manusia, antara lain: Bekas api yang tidak sempurna padam, sampah tertinggal dan pembukaan lahan baru. Kebakaran hutan gunung yang sangat kecil disebabkan oleh faktor alam. Jadi, jadilah pendaki yang bijak dan jangan membuang sampah sembarangan.

2. Suhu Udara Lebih Dingin

Bukan rahasia lagi bahwa udara gunung di musim kemarau jauh lebih sejuk daripada musim hujan. Akhir-akhir ini media sosial juga telah dimeriahkan oleh suhu di Pegunungan Dieng yang bahkan mencapai -10 Derajat Celcius! Bisakah Anda bayangkan betapa dinginnya itu, teman?

Dieng Membeku! via instagaram @aryadidarwanto
Bersalju di Bromo melalui @ ojekgunung

3. Akhir perjalanan

Cuaca Panas & Terik akibat terbakar sinar matahari membuat stok persediaan perjalanan terutama air mineral menjadi perhatian penting. Sudah banyak insiden Pendaki / Kelompok Pendaki kehabisan air sehingga mereka mengalami dehidrasi.

Dehidrasi di gunung tidak baik! | pict via pixabay

Jika gunung memiliki sumber air yang melimpah, itu mungkin bukan masalah penting. Tetapi jika sumber air berubah menjadi kering, pemanjat harus memiliki manajemen risiko yang baik seperti membawa kebutuhan air mineral yang cukup dengan menghitung durasi perjalanan, ketersediaan mata air dan jumlah orang (jika dalam kelompok).

4. Jalur Lintas Alam Berdebu

Musim kemarau membuat jalur pendakian kering dan berdebu. Debu terbang bersama dengan tangga para pendaki yang menginjak tanah.

Paparan debu cukup berbahaya jika terhirup atau terkena mata sehingga masalah kesehatan seperti iritasi dan masalah pernapasan menjadi ancaman nyata.

Peran masker, kacamata dan obat tetes mata untuk mengantisipasi sangat penting jika mendaki di musim kemarau.

5. Hipotermia

Di musim kemarau suhu udara di gunung biasanya tidak kalah dingin dengan musim hujan. Beberapa kasus pendaki mengabaikan penghangat tubuh seperti jaket karena mereka merasa pendakian di musim kemarau suhu gunung akan panas. Namun ternyata pada malam hari suhunya bisa sangat dingin mencapai 0 derajat Celcius. Ini jika tidak diantisipasi dapat menyebabkan hipotermia.

Sebagai langkah antisipasi, Anda dapat membaca artikel hipotermia berikut: ( DEAR CLIMBERS, TAHU HIPOTERI DAN CARA PENANGANAN DAN PENCEGAHAN DARI BERIKUT )

Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat meningkatkan kewaspadaan terutama bagi Anda yang memiliki agenda hiking di musim kemarau. Jaga keselamatan hiking, jadikan pendaki yang bijaksana untuk alam dan diri Anda sendiri 🙂

Seperti ini:

Suka Memuat …


Like it? Share with your friends!

0

DON'T MISS