Destinasi wisata budaya Cirebon dan sekitarnya untuk wisata edukasi


Destinasi wisata budaya Cirebon dan sekitarnya untuk wisata edukasi

Indonesia terkenal dengan kekayaan budayanya yang beragam, baik itu suku, agama, pola hidup maupun kebiasaan yang rutin dilakukan oleh masyarakat. Sejak zaman dahulu, jauh sebelum masa penjajahan, berbagai romantisme kehidupan tercipta di Indonesia, termasuk kota Cirebon. Kawasan yang juga dikenal sebagai Kota Udang ini juga menyimpan sejarah, agama dan bukti sejarah penduduk masa lalu. Semuanya selaras menjadi satu, mengajari setiap warga dan turis untuk mengetahui jati diri leluhur mereka. Melalui wisata budaya, kita diajak untuk mengenal rekam jejak, cerita, dan alur nenek moyang kita ' perjuangan untuk menciptakan identitas nasional. Karenanya, kini saatnya Cirebon mendalami wisata budaya sebagai sarana edukasi.

1. Mengenal Sejarah Politik Pemerintahan Kota Udang Keraton Kasepuhan

wisata budaya cirebonKredit gambar: Maharanita Nugradianti (kiri), Istana Kasepuhan (kanan)

Saat datang ke sini, Anda akan disambut dengan dua patung harimau putih, legenda masyarakat Jawa Barat yang konon sudah lama menjaga kawasan ini. Saat memasuki kompleks Keraton terdapat sebuah bangunan yang cukup tinggi yang dikenal dengan nama Mande Pengiring, yang menjadi tempat para sahabat Sultan saat menjaga kompleks tersebut. Tampak seperti pendopo pesanggrahan yang sejuk, dikelilingi rerumputan hijau di halaman dalam yang luas. Anda bisa berfoto di kawasan ini asalkan bisa menjaga kebersihan.

Menengok ke dalam ruangan, pengunjung akan diarahkan untuk melihat berbagai koleksi peninggalan sejarah dari keraton sejak 1430 Masehi. Salah satu koleksi andalan di keraton ini adalah kereta Singa Barong. Konon kereta tersebut merupakan kereta emas milik Sunan Gunung Jati dan hingga kini menjadi ikon kebanggaan warga Cirebon.

Setiap area di Keraton Kasepuhan memiliki filosofi tersendiri, terutama menafsirkan ayat Al-Quran seperti pilar Mande Semar Tinandu yang melambangkan kalimat Syahadat. Jika ingin berkunjung ke Keraton Kasepuhan, sebaiknya datang tepat sebelum Idul Fitri, karena saat itu tim gamelan Keraton menggemakan pengiring khas Cirebon.

Alamat: Jl. Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114
Jam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 17.00
Retribusi: 10.000 Rupiah untuk dewasa

2. Menyaksikan perkawinan arsitektur Cirebon-Tionghoa di Istana Kanoman

wisata budaya cirebonKredit gambar: Tripadvisor

Sama seperti Yogyakarta, Cirebon memiliki lebih dari satu keraton, salah satunya adalah Keraton Kanoman. Pendiri istana ini adalah Pangeran Kartawijaya, putra Sultan Abdul Karim dari Istana Kasepuhan. Istana Kanoman sangat kental dengan budaya Islam dan sering mengadakan acara Grebeg Syawal seminggu setelah Idul Fitri. Oleh karena itu, jika Anda ingin merasakan lebaran di Kota Sunan, kami sarankan untuk tetap berada di Cirebon hingga acara Grebeg Syawal berlangsung.

Istana Kanoman juga tidak kalah menarik dengan bangunan lainnya, dengan gaya arsitektur Islami yang kental dengan corak putih. Halaman istana sangat luas, dengan pagar gapura yang khas dengan singgasana dari keramik. Ada juga item yang dipamerkan di Istana Kanoman seperti Kereta Taksi Naga Liman, kereta kerajaan paling terkenal. Anda juga bebas berfoto di halaman yang sangat luas, berkeliling melihat tahta dan ruang pertemuan, serta berjalan-jalan di sekitar museum istana. Istana ini kental dengan keramik Cina.

Suasana di keraton juga sangat sejuk namun berada di lokasi yang buruk. Istana ini ditutup oleh bangunan toko dan tersembunyi. Sebenarnya tata letak Keraton yang tersembunyi ada sejarahnya dan alangkah lebih baiknya jika datang kesini langsung dan mengetahui fakta-fakta menarik di dalamnya.

Alamat: Jl. Kanoman No.40, Lemahwutut, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111
Jam Operasional: Setiap hari, 09.00 – 17.00
Retribusi: 10.000 IDR per orang

3. Berdoa untuk penyebar agama Islam ke Makam Sunan Gunung Jati

Kredit gambar: Victoria Tunggono (kiri), Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat

Islam tidak dapat berkembang seperti sekarang ini tanpa adanya peran penting dari Walisongo, salah satunya yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Perannya dalam penyebaran Islam di Jawa masih sangat dihormati oleh umat Islam hingga saat ini.

Makam Sunan Gunung Jati masih dibuka untuk umum yang ingin berziarah guna mendoakan almarhum yang dimakamkan di bukit Gunung Sembung. Makamnya berdampingan dengan istrinya, Putri Ong Tien Nio, salah satu putra kaisar di Dinasti Ming.

Anda bisa melihat begitu banyak keramik khas China dengan corak biru dan putih. Begitu juga dengan bagian dalam makam yang penuh dengan atap kayu, ditempelkan keramik Cina di dinding. Bentuk makamnya sangat khas, seperti rangkaian bentuk arsitektur Istana Kanoman bernuansa putih. Gerbang inilah yang sangat menarik bagi orang-orang untuk berfoto bersama kerabat usai mengunjungi makam. Daya tarik wisata budaya Cirebon tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam tetapi juga warga Tionghoa yang menghormati Putri Ong Tien Nio sebagai nenek moyang Negeri Tirai Bambu.

Jika Anda ingin melihat prosesi Grebeg Syawal dari Keluarga Keraton Kanoman, Anda bisa datang setelah tujuh hari lebaran. Biasanya keluarga Keraton Kanoman datang berziarah ke makam Sunan Gunung Djati, dan mengadakan syukuran dengan cara melempar koin kepada warga Cirebon yang sedang menunggu di halaman makam.

Alamat: Jl. Lapangan Ciledug No.53, Astana, Kec. Gunungjati, Cirebon, Jawa Barat
Jam Operasional: Setiap hari, 24 jam
Retribusi:
Gratis

4. Tempat Pengesahan Walisongo Masjid Merah Panjunan

wisata budaya cirebonKredit gambar: Cirebon Heritage

Masjid Merah Panjunan bukan hanya masjid yang berdiri sejak lama di Kota Cirebon, tetapi juga menjadi saksi bisu Walisongo sebelum menyebarkan Islam. Mengunjungi Masjid Merah Panjunan merupakan wisata budaya Cirebon yang sangat menarik, anda bisa berfoto di dalam sebuah bangunan masjid dengan gaya arsitektur bata merah seperti pintu gerbang Kerajaan Hindu Kuno.

Sunan Gunung Jati adalah sosok yang membangun Masjid Merah Panjunan, dengan corak keramik Tionghoa yang menempel di bagian depan gerbangnya. Pemandangan ini sangat menarik untuk dijadikan koleksi foto Anda, karena warna merah yang mencolok dan ornamen keramik yang unik. Bangunan masjid terlihat sederhana namun berkesan, Anda bisa melihat beberapa ruangan yang memiliki makna filosofis.

Alamat: Jl. Panjunan No.43, Panjunan, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat
Jam Operasional: Setiap hari, 24 jam.
Retribusi: Gratis

5. Puing-puing karya Sultan Kasepuhan di Taman Sari Gua Sunyaragi

Kredit gambar: @seranggaliar

Jangan dibayangkan Gua Sunyaragi ini adalah gua alam. Sebenarnya Gua Sunyaragi adalah taman milik Keraton Kasepuhan. Konon destinasi wisata budaya Cirebon merupakan kawasan Keraton Kasepuhan dengan berbagai sentuhan lanskap yang epik. Kini, bangunan Gua Sunyaragi terlihat artistik meski lahannya tidak seluas dulu.

Kredit gambar: @nazarqodri

Anda bisa berfoto di sela-sela celah bebatuan yang menjulang tinggi, atau sekedar bersantai di atas rerumputan dengan view halaman yang sangat luas. Jika ingin mengetahui sejarah dari taman Gua Sunyaragi, Anda bisa meminta penjelasan salah satu pemandu wisata secara detail. Kawasan wisata Gua Sunyaragi kini sudah dilengkapi dengan kantin dan food court, jadi tidak perlu khawatir jika perut tiba-tiba keroncongan.

Alamat: Jl. Brigjend Katamso, Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon.
Jam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 18.00
Retribusi: 5.000 Rupiah

6. Kaji Tonggak Islam di Kota Cirebon, Masjid Sang Cipta Rasa

Kredit gambar: Metland Hotel by Horison

Nama lain dari destinasi wisata budaya ini adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di kompleks Keraton Kasepuhan di Cirebon. Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan yang tertua di kota Cirebon karena dibangun pada tahun 1480.

Selain sebagai tempat wisata spiritual, penggemar sejarah dan budaya akan dibuat takjub dengan fakta menarik seputar hubungan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Masjid Agung Banten. Jika pernah berwisata ke Demak, Anda mungkin akan melihat pola dan pola yang sama antara Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Agung Demak. Bagi wisatawan yang beragama Islam, daya tarik masjid ini adalah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran agama utama yang dipasang oleh Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

Alamat: Jl Kasepuhan, Komplek Kasepuhan Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon.
Jam Operasional: Setiap hari, 24 jam
Retribusi: Gratis.

7. Tenang di Sunan Kalijaga Petilasan

wisata budaya cirebonKredit gambar: Cirebon Heritage

Menurut cerita yang beredar, tempat ini dipengaruhi oleh mitos seputar monyet yang tinggal di sekitar Petilasan Sunan Kalijaga. Namun wisatawan dari berbagai daerah sepakat bahwa monyet yang menghuni kawasan tersebut merupakan objek wisata yang sulit ditemukan di Cirebon. Di sini kamu bisa bermain dengan monyet lucu yang bertingkah menggemaskan, bahkan ada yang minum soda seperti manusia.

Di bagian belakang petilasan terdapat kuburan murid-murid kepercayaan Sunan Kalijaga dan sekaligus tempat wudhu. Biasanya para peziarah berdoa dan merenungkan ajaran Islam serta berusaha mencari ketenangan dari suasana kota yang ramai. Bagi yang tidak berkunjung ke kuburan, tak ada salahnya menghibur diri dengan melihat monyet-monyet lucu bergelantungan di pohon. Biasanya mereka sangat senang jika diberi kacang dan air minum.

Alamat: Jl. Bhakti Abri, Kalijaga, Harjamukti.
Jam Operasional: Setiap hari, 24 jam.
Retribusi: Gratis

8. Salah satu dari tujuh candi tertua di Indonesia, Vihara Dewi Welas Asih

wisata budaya cirebonKredit gambar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat

Area perbelanjaan di Jalan Winaon terkenal sebagai Pecinan di Kota Cirebon. Banyak etnis Tionghoa dan keturunannya tinggal di sana dan telah bertahun-tahun mengelola toko untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat. Pengaruh populasi etnis Tionghoa di Cirebon tidak lepas dari ekspedisi Cheng Ho dari Negeri Tirai Bambu.

Salah satu bukti sejarah dan keberadaan warga Tionghoa di Cirebon adalah Pura Dewi Welas Asih yang berdiri di Jl Kantor Panjunan. Tidak ada catatan pasti kapan Vihara ini didirikan, namun tempat peribadahan ini telah digunakan oleh umat Buddha sejak tahun 1559. Sebuah tradisi khas biasanya terjadi pada saat perayaan Cap Go Meh, sedangkan perayaan Imlek sangat ramai pada tengah malam. Ornamen Tiongkok seringkali menjadi magnet untuk selfie, dan Goddess of Mercy Vihara mempertahankan arsitekturnya yang klasik dan sama seperti aslinya.

Alamat: Jl. Kantor, Panjunan, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat
Jam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 16.00
Retribusi:

9. Melihat bukti sejarah kemajemukan masyarakat di Pura Talang

Kredit gambar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat

Bukti sejarah lain yang membuktikan bahwa multikulturalisme di Cirebon sangat erat kaitannya adalah keberadaan Pura Ta Lang. Tempat ini dulunya merupakan kediaman awak kapal Dinasti Ming saat berlabuh ke Jawa Barat. Ada yang memilih tinggal dan berkeluarga, jadi tidak kembali ke China. Sulit bagi mereka untuk menemukan rumah ibadah bagi orang Konghucu sehingga terpicu oleh masyarakat sekitar untuk merelakan masjid tersebut menjadi kuil. Jika ingin tahu cerita menarik tentang rumah peribadatan berusia 500 tahun ini, ada baiknya datang ke Candi Talang dan melihat fakta menarik seputar bangunan dan pernak perniknya.

Candi Talang juga sangat menarik sebagai tempat berfoto, karena bangunan berarsitektur khas Tionghoa terlihat jelas. Dindingnya semuanya berwarna merah dan emas, dimahkotai dengan naga hijau, lentera merah, dan kaligrafi emas Cina.

Alamat: Jl. Talang No.2, Lemahwutut, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat
Jam Operasional: 08.00 – 20.00
Retribusi: Gratis

10. Jejak kolonial asli yang dilestarikan, Kota St. Yusuf Cirebon

Kredit gambar: St. Yusuf Cirebon

Gereja ini dulunya adalah rumah ibadah pekerja Belanda yang bekerja di pabrik gula dan staf VOC di Cirebon. Gereja ini merupakan tempat peribadahan umat Katolik tertua di Jawa Barat. Proses pembangunannya dibiayai 100% oleh seorang tuan tanah bernama Louis Theodore Gonsalves, seorang Portugis asli yang menetap di Indonesia pada tahun 1800-an. Gereja ini adalah cikal bakal umat Katolik di Cirebon dan ceritanya terekam dalam prasasti yang ditulis dalam bahasa Latin.

Kini Gereja Katolik Santo Yusuf Cirebon menjadi cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Tidak ada bagian dari bangunan yang berubah sejak didirikan, meskipun beberapa renovasi dan perbaikan telah dilakukan pada bangunan yang rusak tersebut. Bentuknya sangat bergaya arsitektur Eropa dengan balkon paduan suara menghadap ke utara. Anda bebas berfoto di area gereja dan di dalam gereja selama tidak menyentuh lantai altar.

Alamat: Jl. Yos Sudarso No.20, Lemahwutut, Kec. Lemahwutut, Kota Cirebon, Jawa Barat
Jam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 16.00
Retribusi: Gratis

11. Mempelajari Batik Kebanggaan Jawa Barat di Museum Trupark

wisata budaya cirebonKredit gambar: Museum Trupark

Museum Trupark merupakan wisata budaya Cirebon yang sangat direkomendasikan untuk Anda. Berisi beberapa koleksi karya seni dari kota Cirebon yang mungkin belum banyak diketahui warga Jawa Barat. Seluruh penjuru museum dipenuhi dengan benda-benda kerajinan tangan dari kota Cirebon seperti topeng tanah liat yang biasa digunakan para penari untuk menunjukkan bakatnya saat acara hajatan.

Pengunjung diperbolehkan mengenakan pakaian kimono saat berfoto di dalam museum. Setiap sudut Museum Treepark sangat instagenic dan sangat pas untuk dijadikan tempat hiburan sekaligus wahana edukasi budaya untuk anda kunjungi bersama keluarga.

Alamat: Weru Lor, Weru, Cirebon
Jam Operasional: Setiap hari pukul 08.00 – 20.00
Retribusi: 45.000 IDR per orang

Baca juga: 14 makanan khas Cirebon dan tempat terbaik untuk mencobanya

Menurut Anda, destinasi wisata budaya Cirebon mana yang paling menarik perhatian Anda?


Like it? Share with your friends!

0

DON'T MISS